PERAN PERSEPSI DAN SENSASI DALAM PROSES KOMUNIKASI INTERPERSONAL DI MEDIA SOSIAL
Ailsa Meidina Shaqi 202310415086
Universitas Bhayangkara Jakarta Raya
Fakultas Ilmu Komunikasi
Dosen Pengampu : Pagi Muhammad, S.I.Kom., M.I.Kom
Abstrak
Komunikasi Interpersonal tidak hanya berlangsung melalui kata-kata, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh proses mental seperti sensasi dan persepsi. Dua komponen psikologis ini memainkan peran sentral dalam bagaimana seseorang menerima, memproses, dan menanggapi pesan dari orang lain. Dalam interaksi antarindividu, sensasi menjadi pintu awal masuknya informasi dari lingkungan melalui indera, sedangkan persepsi bertugas menginterpretasi dan memberi makna terhadap informasi tersebut. Artikel ini membahas secara komprehensif tentang bagaimana sensasi dan persepsie bkerja dalam komunikasi antarpribadi, serta bagaimana persepsi yang salah dapat menimbulkan konflik atau hambatan komunikasi. Dengan pendekatan deskriptif kualitatif dan kajian literatur, artikel ini diharapkan memberi pemahaman lebih dalam mengenai pentingnya memahami faktor psikologis dalam proses komunikasi manusia.
Kata Kunci: komunikasi interpersonal, persepsi, sensasi, interpretasi, hubungan manusia.
Abstract
Interpersonal communication does not only take place through words, but is also greatly influenced by mental processes such as sensation and perception. These two psychological components play an important role in how a person receives, processes, and responds to messages from others. In interactions between individuals, sensation is the initial gateway for information from the environment through the senses, while perception is responsible for interpreting and giving meaning to the information. This article comprehensively discusses how sensation and perception work in interpersonal communication, as well as how misperception can cause conflict or communication barriers. With a qualitative descriptive approach and literature review, this article is expected to provide a deeper understanding of the importance of understanding psychological factors in the human communication process.
Keywords : interpersonal communication, perception, sensation, interpretation, human
relationships.
PENDAHULUAN
Manusia merupakan makhluk sosial yang unik, kompleks, dinamis, serta memiliki berbagai potensi yang bisa dikembangkan dan dimaksimalkan, pada dasarnya manusia merupakan makhluk sosial yang tidak bisa dipisahkan dari komunikasi semasa hidupnya. Dengan perkembangan teknologi saat ini komunikasi menjadi sangat mudah, namun tidak dapat dihindari bahwa adanya keterbatasan dalam menerima dan memproses informasi dalam diri. Sehingga menjadi komponen penting untuk adanya persepsi dan sensasi dalam komunikasi interpersonal sebagai pembentukan interaksi yang saling dimengerti. Persepsi dan sensasi mempunyai peran yang harus diperhatikan tetapi seringkali diabaikan dalam proses komunikasi interpersonal.
Komunikasi interpersonal merupakan suatu proses dinamis yang melibatkan pertukaran pesan antara dua orang atau lebih dengan tujuan untuk saling memahami, membangun hubungan, serta menyampaikan perasaan dan informasi. Komunikasi interpersonal ini tidak hanya terjadi melalui ucapan verbal atau nonverbal, tetapi juga melibatkan proses mental yang kompleks, seperti pengindraan dan penafsiran sehingga persepsi dapat mengubah sensasi menjadi informasi. Pada kehidupan sehari-hari,seseorang terus-menerus menerima rangsangan dari lingkungan melalui pancaindra. Dalam psikologi sensasi merupakan penerimaan stimulus melalui alat indra, sedangkan persepsi merupakan menafsirkan stimulus yang telah ada di dalam otak. Informasi yang masuk melalui penglihatan, pendengaran, penciuman, peraba, dan perasa ini akan diolah dalam sistem saraf pusat untuk kemudian diberikan makna tertentu, maka peran sensasi dan persepsi menjadi sangat penting dalam proses komunikasi.
Tujuan dari penulisan artikel ini merupakan untuk menganalisis secara kualitatif bagaimana sensasi dan persepsi menjadi peranan dalam komunikasi interpersonal di media sosial. Analisis ini dilakukan untuk menggali lebih dalam dinamika psikologis yang terjadi dalam proses komunikasi interpersonal yang terjadi dalam media sosial, serta menemukan bagaimana persepsi dapat mengubah sensasi menjadi suatu informasi baru. Dengan menggunakan panduan utama buku psikologi komunikasi, artikel ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoritis dan praktis dalam pengembangan informasi peranan sensasi dan persepsi terhadap komunikasi interpersonal di media sosial.
TINJAUAN PUSTAKA
Komunikasi interpersonal adalah proses pertukaran pesan, pikiran, perasaan, atau informasi antara dua orang atau lebih secara langsung, baik secara verbal maupun nonverbal. Komunikasi interpersonal merupakan komunikasi yang bersifat dua arah dan biasanya berlangsung dalam interaksi tatap muka atau melalui media seperti telepon, pesan instan, atau video call. Menurut Devito (2019), komunikasi antarpribadi adalah bentuk komunikasi yang melibatkan pertukaran makna, ide, emosi, dan informasi dalam hubungan yang bersifat dekat, seperti antara teman, rekan kerja, atau anggota kelompok. Sementara itu Manning (2020) mengatakan bahwa komunikasi interpersonal melibatkan interaksi antara dua orang atau lebih, biasanya dengan koneksi langsung dan hubungan yang direncanakan.
Pada penelitian ini, persepsi dan sensasi memiliki peranan dalam proses komunikasi interpersonal di media sosial. Konsep antara persepsi dan sensasi memiliki hubungan yang saling berkaitan. Wood (2016) menjelaskan bahwa persepsi merupakan proses aktif menciptakan makna dengan memilih, mengatur, dan menafsirkan orang, objek, peristiwa, situasi, dan fenomena lainnya. Dan menurut Benyamin B. Wolman (1973: 3443), sensasi adalah pengalaman elementer yang segera, yang tidak memerlukan penguraian verbal, simbolis, atau konseptual, dan terutama berhubungan dengan kegiatan alat indera.
Dapat ditafsirkan bahwa perilaku seseorang dalam komunikasi interpersonal sangat bergantung pada persepsi interpersonal. Apabila seseorang menerima informasi bahwa dosen tersebut sangat tegas dan teliti maka seseorang tersebut akan berhati-hati ketika mengajukan pertanyaan dan berusaha menghindari komunikasi interpersonal dengan dosen tersebut. Pada kenyataannya, persepsi seseorang seringkali tidak cermat, apabila hal itu terjadi maka akan terjadilah kegagalan komunikasi interpersonal. Kegagalan komunikasi dapat diperbaiki apabila seseorang tersebut menyadari bahwa persepsinya mungkin salah.
Pada proses komunikasi interpersonal yang berkaitan dengan media sosial, menurut Devito (2015) bahwa di zaman sekarang komunikasi interpersonal tidak hanya dilakukan secara fisik dengan tatap muka, tetapi juga dapat melalui media sosial. Komunikasi interpersonal bahkan sudah menggabungkan berbagai bentuk media sosial yang pada saat ini menjadi bagian penting dari kehidupan komunikasi manusia abad ke 21. Pada umumnya, media sosial digunakan untuk berbagi media kolaborasi dalam skala yang cukup besar dan juga dapat mencakup jaringan konten buatan pengguna yang lebih kecil untuk komunitas mikro (Eginli & Tas, 2018).
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Komunikasi interpersonal dalam media sosial
Komunikasi interpersonal dalam media sosial merupakan salah satu bentuk interaksi antar individu yang berlangsung melalui platform digital seperti Instagram, WhatsApp, atau X (Twitter). Dalam komunikasi ini, meskipun tidak dilakukan secara tatap muka, pengguna tetap membentuk dan menanggapi pesan berdasarkan pengalaman sensasi dan penafsiran mental. Sensasi terjadi saat pengguna menerima stimulus seperti tulisan, gambar, emoji, atau suara melalui pancaindra seperti penglihatan dan pendengaran, sementara persepsi terbentuk saat pengguna menafsirkan makna dari stimulus tersebut berdasarkan latar belakang, emosi, dan pengalaman pribadi sehingga tercipta keterkaitan antara sensasi dan persepsi dalam komunikasi interpersonal dalam media sosial.
Perbedaan persepsi seseorang pasti berbeda beda, seperti pesan singkat "Oke.” Bisa saja dipersepsikan berbeda oleh penerima ada yang menganggapnya netral, ada pula yang merasa pengirim sedang marah atau emosi. Perbedaan ini menunjukkan bahwa persepsi memainkan peran penting dalam komunikasi interpersonal di media sosial. Karena dengan adanya persepsi maka media sosial membatasi sinyal nonverbal seperti nada suara atau ekspresi wajah, pengguna sangat bergantung pada persepsi untuk memahami maksud pesan. Demikian dengan persepsi tersebut potensi terjadinya miskomunikasi dapat meningkat karena apa yang dirasakan atau sensasi belum tentu sesuai dengan yang dimaksudkan pengirim pesan..
Selain itu, sensasi dalam komunikasi digital juga dapat diperkuat dengan penggunaan elemen visual seperti emoji, stiker, dan video. Elemen-elemen ini menjadi alternatif untuk menyampaikan suasana emosional yang biasanya hadir dalam komunikasi langsung. Ketika seseorang melihat emoji wajah tersenyum, otaknya akan memprosesnya sebagai stimulus visual yang menggambarkan suasana hati positif. Namun, penafsiran ini tetap subjektif dan dipengaruhi persepsi setiap individu, sehingga komunikasi interpersonal dalam media sosial sangat bergantung pada akurasi interpretasi.
Daripada itu efektivitas komunikasi interpersonal di media sosial sangat dipengaruhi oleh bagaimana pengguna memproses sensasi digital dan membentuk persepsi terhadap pesan yang diterima. Namun kesadaran akan perbedaan persepsi, serta keterampilan dalam menyampaikan pesan dengan jelas dan empatik, menjadi kunci untuk menjaga hubungan interpersonal yang sehat di ruang digital. Dengan menggabungkan pemahaman tentang komunikasi, sensasi, dan persepsi sangat penting agar interaksi dalam media sosial tidak hanya cepat, tetapi juga bermakna.
2. Media sosial sebagai sarana komunikasi
Pada zaman sekarang komunikasi telah berkembang, seperti media sosial yang telah berkembang menjadi salah satu sarana utama dalam aktivitas komunikasi manusia modern. Melalui berbagai platform digital seperti Instagram, WhatsApp, dan X (Twitter), individu dapat berinteraksi secara cepat, fleksibel, dan lintas ruang-waktu. Namun, di balik kemudahan tersebut, komunikasi melalui media sosial tidak sepenuhnya netral. Proses komunikasi digital tetap melibatkan pengalaman inderawi (sensasi) ketika individu menerima rangsangan berupa teks, gambar, atau suara dari lawan bicara. Sensasi ini menjadi titik awal interaksi karena memberikan stimulus yang kemudian ditafsirkan oleh otak.
Setelah stimulus diterima maka individu akan membentuk makna melalui proses persepsi. Persepsi sangat dipengaruhi oleh latar belakang sosial, emosi, dan pengalaman seseorang, sehingga beberapa orang bisa menafsirkan pesan yang sama secara berbeda. Dalam komunikasi melalui media sosial, persepsi memegang peran krusial karena tidak adanya unsur nonverbal seperti intonasi suara, ekspresi wajah, atau bahasa tubuh yang biasanya membantu memperjelas makna pesan. Oleh sebab itu, kesalahpahaman dalam komunikasi digital sering kali tidak disebabkan oleh isi pesan semata, tetapi oleh cara penerima menafsirkan makna di balik pesan tersebut.
3. Persepsi dalam komunikasi interpersonal
Persepsi merupakan proses psikologis yang melibatkan pengorganisasian dan interpretasi informasi sensorik menjadi sesuatu yang bermakna. Menurut DeVito (2016), persepsi melibatkan tiga tahapan utama, yaitu seleksi, organisasi, dan interpretasi. Dalam tahap seleksi, individu memilih informasi mana yang ingin diperhatikan. Organisasi mengacu pada cara informasi tersebut disusun dalam struktur tertentu, sedangkan interpretasi adalah proses pemberian makna terhadap informasi yang telah dipilih dan diorganisasi.
Persepsi sangat dipengaruhi oleh faktor internal, seperti motivasi, harapan, pengalaman masa lalu, dan latar belakang budaya. Dua orang dapat menyaksikan peristiwa yang sama, tetapi memberikan interpretasi yang sangat berbeda. Dalam konteks komunikasi antarpribadi, perbedaan persepsi ini dapat menjadi sumber kesalahpahaman. Misalnya, ketika seseorang diam, bisa jadi ia dianggap marah, padahal ia hanya sedang lelah atau merenung.
Proses persepsi juga mencakup apa yang disebut sebagai attribution atau penilaian terhadap niat dan perilaku orang lain. Ketika seseorang berbicara dengan nada tinggi, kita mungkin mengira dia sedang marah, padahal bisa saja itu adalah gaya bicaranya yang biasa. Kesalahan dalam atribusi semacam ini bisa memicu konflik yang sebenarnya tidak perlu terjadi.
Persepsi juga memiliki efek yang mendalam dalam pembentukan citra diri dan kesan pertama. Dalam komunikasi antarpribadi, kesan pertama sering kali menentukan kelanjutan dari interaksi. Persepsi awal terhadap penampilan, nada suara, dan gaya berbicara dapat membentuk sikap dan keputusan kita untuk membuka diri atau tidak dalam komunikasi selanjutnya.
4. Sensasi sebagai Dasar Komunikasi
Sensasi adalah proses biologis awal di mana organ indera mendeteksi rangsangan dari lingkungan luar. Menurut Feldman (2009), sensasi merupakan proses penerimaan stimulus oleh reseptor sensorik yang kemudian dikirim ke otak untuk diinterpretasikan. Dalam konteks komunikasi antarpribadi, sensasi berperan sebagai tahap awal dari pemrosesan informasi. Misalnya, saat seseorang berbicara, suara yang dihasilkan akan diterima oleh indera pendengaran lawan bicara dan diteruskan ke otak untuk dianalisis lebih lanjut.
Indera visual juga memainkan peran penting dalam komunikasi, terutama dalam menangkap ekspresi wajah, gerakan tubuh, dan isyarat nonverbal lainnya. Dalam banyak situasi, informasi nonverbal ini justru menyampaikan pesan yang lebih kuat daripada kata-kata itu sendiri. Sensasi yang tidak lengkap atau terganggu dapat menyebabkan informasi yang salah. Contohnya, pencahayaan yang buruk bisa membuat ekspresi wajah tidak terlihat jelas, atau suara yang terlalu pelan bisa menyebabkan pesan tidak tertangkap sepenuhnya.
Dengan demikian, kualitas dari sensasi yang diterima sangat menentukan keakuratan komunikasi. Namun, proses tidak berhenti sampai di situ. Sensasi harus diolah melalui persepsi agar memiliki makna dalam benak penerima pesan.
5. Dinamika Persepsi dan Sensasi dalam Interaksi Sosial
Dalam interaksi sehari-hari, proses sensasi dan persepsi bekerja secara simultan dan memengaruhi cara kita memahami pesan. Misalnya, dalam sebuah percakapan tatap muka, kita tidak hanya mendengarkan kata-kata, tetapi juga memperhatikan ekspresi wajah, nada suara, dan gerakan tubuh lawan bicara. Semua informasi sensorik ini dikombinasikan dalam pikiran kita melalui proses persepsi untuk ditafsirkan sebagai emosi atau maksud tertentu.
Salah satu tantangan dalam komunikasi antarpribadi adalah bahwa persepsi bersifat subjektif. Apa yang dianggap sopan oleh seseorang bisa dianggap dingin oleh orang lain. Misalnya, dalam budaya Jawa, bicara dengan suara pelan dianggap sebagai bentuk penghormatan, tetapi dalam budaya lain, itu bisa dianggap kurang percaya diri. Komunikasi yang efektif membutuhkan kesadaran bahwa persepsi bisa keliru. Sering kali kita membuat asumsi berdasarkan persepsi tanpa melakukan klarifikasi. Hal ini bisa memicu kesalahpahaman, konflik, atau bahkan rusaknya hubungan. Oleh karena itu, mendengarkan secara aktif dan bertanya balik untuk memastikan makna adalah keterampilan penting dalam komunikasi antarpribadi.
Di sisi lain, persepsi juga sangat penting dalam membangun empati. Kemampuan untuk memahami perspektif orang lain yang disebut sebagai empathetic accuracy dapat membantu menciptakan hubungan interpersonal yang lebih dekat dan sehat. Ketika kita mampu melihat dunia dari sudut pandang orang lain, kita akan lebih berhati-hati dalam menyampaikan pesan dan lebih terbuka dalam menerima umpan balik.
6. Peran Teknologi dalam Mengganggu atau Mendukung Persepsi
Dalam era digital saat ini, sebagian besar komunikasi antarpribadi berlangsung melalui media digital seperti pesan teks, media sosial, dan video call. Meskipun teknologi memudahkan komunikasi, ia juga membawa tantangan baru, khususnya dalam hal persepsi. Komunikasi tertulis seperti pesan singkat sering kali tidak menyertakan isyarat nonverbal yang penting untuk interpretasi makna. Tanpa ekspresi wajah atau nada suara, pesan bisa dengan mudah disalahartikan. Sebagai contoh, kalimat “baiklah” bisa bermakna netral, marah, atau sinis tergantung bagaimana kita mempersepsinya. Akibatnya, komunikasi berbasis teks sering kali rentan terhadap miskomunikasi.
Video call dan komunikasi visual memang memberikan lebih banyak konteks visual, tetapi tetap saja tidak bisa sepenuhnya menggantikan komunikasi tatap muka. Delay suara, ekspresi wajah yang terputus, atau gangguan teknis bisa memengaruhi persepsi secara negatif. Oleh karena itu, komunikasi digital menuntut kita untuk lebih hati-hati dalam memilih kata, menggunakan tanda baca, atau bahkan menambahkan emoji untuk membantu memperjelas makna.
Namun demikian, teknologi juga dapat mendukung persepsi positif jika digunakan dengan bijak. Misalnya, penggunaan fitur video dapat membantu menampilkan ekspresi wajah dan gestur tubuh yang penting dalam komunikasi emosional. Selain itu, teknologi juga memungkinkan kita berkomunikasi dengan orang dari latar belakang budaya yang berbeda, memperluas pemahaman dan memperkaya persepsi kita terhadap keberagaman.
KESIMPULAN
Komunikasi interpersonal di media sosial merupakan proses yang tidak hanya melibatkan pertukaran pesan, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh sensasi dan persepsi. Sensasi bertindak sebagai pintu awal masuknya stimulus melalui pancaindra, sementara persepsi memberi makna terhadap stimulus tersebut berdasarkan pengalaman, emosi, dan latar belakang individu. Dalam konteks digital, keterbatasan sinyal nonverbal seperti ekspresi wajah atau nada suara menyebabkan individu sangat bergantung pada persepsi dalam menafsirkan pesan. Perbedaan persepsi dapat memicu kesalahpahaman, karena satu pesan yang sama bisa ditanggapi secara berbeda oleh individu yang berbeda. Oleh karena itu, kesadaran akan subjektivitas persepsi serta kemampuan untuk mengklarifikasi makna menjadi penting dalam menjaga efektivitas komunikasi. Sensasi dan persepsi bekerja secara simultan dan tidak bisa dipisahkan dalam proses komunikasi yang utuh. Teknologi digital membawa manfaat dan tantangan dalam komunikasi. Di satu sisi, media sosial memudahkan komunikasi lintas waktu dan tempat; di sisi lain, ia mengurangi konteks emosional yang biasanya hadir dalam interaksi langsung. Maka dari itu, pemahaman yang tepat mengenai peran sensasi dan persepsi menjadi kunci dalam membangun komunikasi yang akurat, empatik, dan bermakna di era digital ini.
DAFTAR PUSTAKA
Anggraini, C., Ritonga, D. H., Kristina, L., Syam, M., & Kustiawan, W. (2022). Komunikasi Interpersonal. Jurnal Multidisiplin Dehasen (MUDE), 1(3), 337–342. https://doi.org/10.37676/mude.v1i3.2611
DeVito, J. A., & DeVito, J. (2019). The interpersonal communication book. Instructor, 1(18), 521-532.
DeVito, J. A., Shimoni, R., & Clark, D. (2015). Massages Building Interpersonal Communication Skills (5th Ed.). Toronto: Pearson.
Eginli, A. T., & Tas, N. O. (2018). Interpersonal communication in social networking sites: An investigation in the framework of uses and gratification theory. Online Journal of Communication and Media Technologies, 8(2), 81-104.
Lubis, M. Z. (2024). Komunikasi Interpersonal di Era Media Sosial: Pengaruh Interaksi Online terhadap Hubungan Personal. Circle Archive, 1(6).
Mahmud, M. D.(2018). PSIKOLOGI SUATU PENGANTAR. Yogyakarta: C.V ANDI OFFSET
Manning, J. (2020). Interpersonal communication. The SAGE international encyclopedia of mass media and society, 2, 842-845.
Muarifah, A.(2023). PENGANTAR PSIKOLOGI. Bandung: PT. REMAJA ROSDAKARYA
Rakhmat, J.(2012). PSIKOLOGI KOMUNIKASI. Bandung: PT. REMAJA ROSDAKARYA
Silfia, H.(2017). KOMUNIKASI ANTARPRIBADI: Teori & Praktik. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media
Suwatno, H., & Arviana, N.(2023). Komunikasi Interpersonal: Panduan Membangun Keterampilan Relasional Kontemporer. Jakarta: PT Bumi Aksara
West, R., & Turner, L. H. (2020). Understanding interpersonal communication: Making choices in changing times (3rd ed.). Cengage Learning.
Wolman, B. B. (1973). Dictionary of behavioral science, New York (Van Nostrand Reinhold Company) 1973.
Wood, J. T. (2020). Interpersonal communication: Everyday encounters (p. 432). Cengage.
Komentar
Posting Komentar